Warga Bumi Ayu Kecewa, Program CSR PHR Dinilai 'Mati Suri'

redaksi
Warga Bumi Ayu Kecewa, Program CSR PHR Dinilai 'Mati Suri'
Xnewss.net, ​DUMAI - Keluhan panjang warga Kelurahan Bumi Ayu terhadap PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mencapai titik nadir. Masyarakat setempat merasa dianaktirikan oleh perusahaan pengelola blok migas tersebut. Program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dulunya menjadi denyut nadi kesejahteraan warga, kini dinilai hilang tak berbekas.


​Kenangan manis akan era PT Caltex dan Chevron masih membekas kuat di ingatan warga. Kala itu, program CSR menyentuh langsung sendi-sendi kehidupan masyarakat Bumi Ayu. Mulai dari pembangunan sarana ibadah seperti masjid, dukungan operasional bagi TPQ/TPA, hingga perawatan fasilitas umum. Sektor kesehatan pun tak luput dari perhatian, dengan bantuan rutin untuk Posyandu-mulai dari perangkat alat kesehatan hingga nutrisi bagi ibu hamil dan balita. Bahkan, kemeriahan perayaan HUT RI setiap tahunnya tak lepas dari dukungan perusahaan.


​Namun, sejak tongkat estafet beralih ke PHR, gerbang bantuan seolah terkunci rapat.

​Lurah Bumi Ayu, Heri Apriadi, S.H., menyampaikan keprihatinannya atas perubahan drastis ini. Menurutnya, dampak ketiadaan program CSR tidak hanya soal bantuan materi, tapi juga menyangkut mitigasi bencana lingkungan yang vital.


​"Dulu, saat zaman Caltex dan Chevron, ada program rutin pembersihan kanal sebanyak dua kali setahun. Ini krusial sekali bagi kami. Kanal yang berbatasan langsung dengan area PHR itu jika tidak dikeruk secara berkala akan mengalami pendangkalan hebat, yang akhirnya memicu banjir di permukiman warga," ujar Heri Apriadi.


​Ia menegaskan, di era PHR, atensi terhadap pembersihan kanal ini seolah lenyap. Pendangkalan yang dibiarkan terus berlangsung kini menjadi ancaman nyata bagi warga setiap kali curah hujan tinggi datang.


​Senada dengan Lurah, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Bumi Ayu, Rahma Yani, menyoroti tertutupnya akses komunikasi dengan pihak perusahaan. Upaya persuasif yang dilakukan oleh pihak kelurahan dan kecamatan seolah membentur tembok tebal.


​"Kami dari pihak kelurahan dan kecamatan sudah berupaya maksimal untuk membangun komunikasi. Namun, sampai hari ini, pihak PHR sama sekali tidak memberikan respons. Jangankan untuk duduk bersama membahas solusi, dihubungi via telepon saja, mereka enggan menjawab," ungkap Rahma Yani dengan nada kecewa.


​Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak manajemen PHR terkait tudingan minimnya kepedulian terhadap warga di sekitar wilayah operasional mereka. Warga kini hanya bisa berharap, ada itikad baik dari perusahaan untuk kembali membuka ruang dialog dan memulihkan tanggung jawab sosial yang selama ini dirindukan. (Agung)