Ultimatum Yeni Ketua Srikandi : Tak Ada Damai Sebelum PT SIL dan IBP Duduk Bersama

redaksi
Ultimatum Yeni Ketua Srikandi : Tak Ada Damai Sebelum PT SIL dan IBP Duduk Bersama
Xnewss.net, Dumai - Ruang pertemuan di kantor Dinas Ketenagakerjaan Kota Dumai, Selasa (14/07/2026), terasa hambar. Kursi yang seharusnya diduduki perwakilan PT SIL dan PT IBP tampak kosong melompong. Ketidakhadiran manajemen perusahaan dalam forum audiensi terkait kisruh pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 30 pekerja yang sebelumnya terdata 20 orang menjadi suluh kemarahan baru bagi Rahma Yani, atau yang akrab disapa Yeni Jati.


​Ketua Srikandi GRIB Jaya Dumai yang juga memimpin barisan Komunitas Pencari Kerja Kota Dumai itu tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Baginya, mangkirnya perusahaan dari meja perundingan adalah bentuk pembangkangan terhadap etika ketenagakerjaan.


​"Ini bukan sekadar soal audiensi yang batal. Ini soal nasib 30 orang yang kini terkatung-katung nasibnya. Selagi pihak IBP maupun SIL belum duduk satu meja dengan saya dan 30 orang yang di-PHK ini, tidak ada kata damai. Titik," ujar Yeni dengan nada dingin namun tegas.


​Yeni mencium gelagat tak sedap dari sikap bungkam perusahaan. Ia menyebut manajemen PT SIL dan PT IBP seolah sedang bermain petak umpet dengan keadilan. Menurutnya, jika perusahaan merasa berada di pihak yang benar, seharusnya mereka berani tampil untuk memberikan klarifikasi, bukan justru mengirim "kursi kosong" ke kantor pemerintah.


​"Jangan sampai perusahaan terlihat jemawa saat merekrut tenaga kerja, namun hilang ditelan bumi saat diminta mempertanggungjawabkan persoalan. Ini tindakan pengecut," cetus Yeni.




​Persoalan ini bermula dari gelombang PHK yang dianggap sepihak dan penuh keganjilan. Bagi Yeni, para pekerja lokal yang dirumahkan bukan sekadar angka dalam laporan keuangan perusahaan. Mereka adalah kepala keluarga yang hak-hak dasarnya kini terabaikan.


​Yeni memastikan, bersama tim pendamping, pihaknya tidak akan tinggal diam. Ia kini tengah mengonsolidasikan langkah hukum dan administratif. Surat resmi akan segera dilayangkan kepada manajemen kedua perusahaan tersebut sebagai bentuk ultimatum terakhir.


​"Kami tidak sedang mencari panggung. Kami hanya menagih janji dan keadilan. Jangan pikir kami bisa dibungkam dengan diamnya perusahaan," tegas Yeni.


​Hingga Selasa petang, pihak PT SIL dan PT IBP masih sulit dimintai keterangan. Tidak ada satu pun perwakilan perusahaan yang muncul di hadapan awak media untuk menjawab tudingan tersebut.


​Di sisi lain, Disnaker Kota Dumai kini berada di posisi sulit. Upaya mediasi yang diharapkan menjadi titik temu justru menemui jalan buntu. Bola panas kini berada di tangan perusahaan. Apakah mereka akan terus memilih bersembunyi di balik ketidakhadiran, atau berani menghadapi Yeni Jati dan 30 pekerja yang kini terus merapatkan barisan?


​Satu hal yang pasti, Yeni telah mengunci pintu kompromi. Tanpa ada pertemuan tatap muka yang transparan, konflik ini dipastikan akan terus memanas hingga ke meja hijau atau aksi massa di lapangan. (Agung)