Srikandi GRIB Jaya Dumai: Jangan Korbankan Loyalitas demi Polemik

redaksi
Srikandi GRIB Jaya Dumai: Jangan Korbankan Loyalitas demi Polemik
Xnewss.net, Dumai- Keriuhan di internal Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya Kota Dumai menyisakan residu yang tak kunjung padam. Di balik silang sengkarut legalitas kepengurusan, suara-suara dari akar rumput mulai berani muncul ke permukaan. Rahma Yani, Ketua Srikandi DPC GRIB Jaya Dumai, menjadi salah satu yang angkat bicara. Ia menarik napas panjang saat menyinggung ihwal loyalitas dan bagaimana sebuah mandat organisasi mestinya diperlakukan.


​Bagi wanita yang kerap disapa Yeni menerangkan, situasi yang terjadi saat ini memantik memori kolektif tentang masa kepemimpinan Ali Syamsurizal. Ia menyebut era Ali sebagai potret kepemimpinan yang lebih dewasa, sebuah kontras tajam dengan dinamika yang terjadi belakangan.


​Yeni mengenang bagaimana Ali Syamsurizal, yang kala itu menakhodai DPC GRIB Jaya Dumai, harus tergeser dari kursinya. Saat itu, Agus Tera tiba-tiba muncul dan mengambil alih komando. "Tidak ada tanggapan negatif, tidak ada kesalahan yang dibuat. Namun, Ali terlengser," ujar Yeni kepada awak media, Kamis (09/07/2026).


​Berbeda dari masa itu, saat ini dinamika organisasi telah menemukan titik terang. Kini muncul kepengurusan baru di bawah komando Drs. Kimlan Antoni, S.H., yang ditunjuk menahkodai DPC GRIB Jaya Dumai berdasarkan Surat Keputusan (SK) yang telah diakui legalitasnya secara sah.


​Yeni juga menjelaskan bahwa pencabutan mandat Agus Tera bukan sekadar insiden lokal di Dumai. "Agus Tera dicabut mandatnya oleh Ketua DPD Provinsi Riau. Hal ini berlaku menyeluruh bagi seluruh Ketua DPC se-Kabupaten/Kota di Provinsi Riau dalam masa kepemimpinan Ketua DPD Irfan Raja Kumala," ungkap Yeni.


​Ia menegaskan, Agus Tera seharusnya bisa bersikap legowo dengan keputusan mutlak dari petinggi GRIB Jaya tersebut. "Seharusnya Agus Tera bisa legowo dengan keputusan dari petinggi GRIB Jaya terkait SK yang menunjukkan Kimlan Antoni sebagai ketua yang sah. Hal ini penting agar kejadian yang semasa kepemimpinan Ali tidak terulang kembali," tegasnya.


​Lebih jauh, Yeni membongkar realita pahit di lapangan mengenai operasional organisasi. Ia mengungkapkan bahwa dalam setiap kegiatan, pengurus tidak sedikit pun menggunakan anggaran dari pusat. Selama ini, para pemimpin yang dipercayai justru merogoh kocek pribadi demi membesarkan organisasi.


​"Pengorbanan ini jangan sampai terlihat sia-sia hanya akibat perbuatan yang tidak setimpal oleh oknum-oknum tertentu yang seolah-olah merasa paling berkorban untuk membesarkan organisasi ini," ujar Yeni dengan nada tegas.


​Ia menekankan bahwa memimpin organisasi bukanlah perkara ringan. Ada biaya besar yang harus ditebusâ€"mulai dari tenaga, pikiran, hingga materiâ€"untuk menggerakkan mesin organisasi, baik di ranah sosial maupun internal.


​Yeni optimistis bahwa ke depan, tata kelola organisasi akan semakin baik. "Untuk ke depannya, hal-hal yang melanggar prosedur dan ketentuan organisasi tidak akan terjadi lagi. Salam GRIB Jaya, Jaya, Jaya!" tutupnya penuh semangat.


​Bagi Yeni, stabilitas organisasi adalah cerminan dari kebijakan para pemimpinnya di pusat. Tanpa keadilan, loyalitas hanya akan menjadi barang langka. (Agung)